Tim Rumah Sakit Universitas Brawijaya, Kementerian Kesehatan dan Tim Eropa luncurkan Pusat Layanan Infeksi untuk dorong transformasi kesehatan berbasis riset dan layanan terpadu.
MALANG, seputarrakyat-news.com – Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) secara resmi memperkenalkan fasilitas terbarunya yaitu Pusat Penyakit Menular, pada upacara pembukaan resmi yang diadakan pada (10/01/26), bertepatan dengan peringatan 9 tahun RSUB. Acara ini dihadiri oleh pejabat senior pemerintah nasional dan daerah serta mitra internasional, termasuk perwakilan dari Kementerian Kesehatan; Duta Besar Jerman; perwakilan Delegasi Uni Eropa (EU) dan Negara Anggota EU; Bupati Malang; Walikota Malang; Walikota Batu; dan pejabat daerah lainnya. Sebagai simbol rasa syukur, upacara pembukaan dirayakan dengan pertunjukan gamelan dan tari tradisional.

Dirancang untuk memperluas akses terhadap perawatan berkualitas tinggi bagi penyakit menular dan penyakit baru, fasilitas khas yang menjadi pertama di Jawa Timur ini akan melayani lebih dari 42 juta penduduk di seluruh provinsi. Fasilitas ini dibiayai melalui dana hibah Uni Eropa sebesar 5 juta Euro (sekitar Rp 97 miliar), yang disalurkan melalui Bank Pembangunan KfW, dengan tujuan untuk memperkuat kesiapsiagaan terhadap serangan pandemi, pengawasan penyakit, dan kapasitas respon klinis Indonesia, dengan fokus pada ketahanan sistem kesehatan jangka panjang. Selain itu, Jerman melalui KfW, telah memberikan pinjaman berbunga rendah sebesar 37 juta Euro (sekitar Rp 725 triliun), yang akan melengkapi kontribusi Uni Eropa untuk pengembangan lebih lanjut dan peningkatan peralatan rumah sakit.
Proyek ini merupakan bagian dari kemitraan investasi Global Gateway yang lebih luas dengan Indonesia di bidang kesehatan, pendidikan, dan penelitian, yang dilaksanakan melalui pendekatan Tim Eropa. Program ini mewakili investasi sebesar 77 juta Euro yang menggabungkan pinjaman sebesar 67 juta Euro dari KfW (Jerman) dan hibah Uni Eropa sebesar 10 juta Euro, yang diimplementasikan melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Kesehatan, untuk mendukung investasi prioritas di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

“Uni Eropa dan Negara-negara anggotanya, melalui pendekatan ‘Tim Eropa’, bermitra dengan Kementerian-Kementerian Republik Indonesia dan dengan Rumah Sakit Universitas Brawijaya agar jutaan warga Indonesia di seluruh Jawa Timur dapat memperoleh manfaat dari lebih banyak peralatan dan teknologi kesehatan yang didanai oleh program Global Gateway Uni Eropa,” jelas Bapak Denis Chaibi, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia.
“Pandemi COVID-19 telah menunjukkan kepada kita dengan sangat jelas bahwa penyakit menular tidak mengenal batas negara. Karena alasan ini, Jerman berinvestasi dalam sistem kesehatan Indonesia untuk mempromosikan produksi vaksin dan farmasi nasional, memperkuat rumah sakit pendidikan, dan mendukung pengendalian malaria,” kata Bapak Ralf Beste, Duta Besar Jerman untuk Indonesia.

“Melalui Infectious Disease Center Rumah Sakit Universitas Brawijaya mendorong transformasi kesehatan berbasis riset dan layanan terpadu yang berdampak bagi generasi kini dan masa depan,” kata Ibu Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., Direktur Direktorat Sumber Daya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
“Dengan dukungan pendanaan Uni Eropa melalui inisiatif Global Gateway, pengembangan Pusat Layanan Infeksi ini memperkuat komitmen RSUB dalam menghadirkan layanan yang melindungi pasien dan keluarga sesuai standar global dan mengembangkan riset utk inovasi,” jelas Ibu Dr. dr. Viera Wardhani, M.Kes, Direktur Rumah Sakit Universitas Brawijaya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular RSUB mencakup layanan dan fasilitas inti berikut: layanan rawat jalan penyakit menular, layanan gawat darurat, fasilitas penitipan anak (untuk transit kasus non-definitif), layanan rawat inap penyakit menular dengan kapasitas perawatan intensif, dan Laboratorium Tingkat Keamanan Hayati 2 (BSL-2). (Satriya)
