Dua Pertunjukan Teater Lintas Negara Digelar di Surabaya Mulai Hari Ini: Angkat Isu Lingkungan dan Kritik Sosial
SURABAYA, seputarrakyat-news.com – Panggung seni budaya di Surabaya kembali bergeliat. Mulai hari ini, Minggu (1/11/2026), hingga besok, Senin (02/11/2026), kolaborasi teater lintas negara antara Tangoing Performance asal Jerman dan Teater Api Indonesia menyajikan dua pementasan menarik di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur. Kedua pertunjukan dijadwalkan menyapa penonton dengan open gate mulai pukul 19.00 WIB.
Meskipun datang dari latar belakang kultur, estetika tubuh, dan pendekatan artistik yang berbeda, kedua kelompok ini berhasil menemukan titik temu melalui dialog yang mengusung refleksi atas persoalan sosial dan lingkungan hidup.

Jadwal Pertunjukan
Minggu, 1 November 2026
Karya: “Now Here (NOWHERE)” oleh Tangoing Performance (Jerman)
Pertunjukan ini mengeksplorasi konsep gerak bebas (free movement) dan filosofi Amerta—sebuah pendekatan yang dipengaruhi oleh maestro tari Solo, Alm. Prapto Suryodarmo. Pementasan ini membawa refleksi mendalam mengenai bagaimana manusia hidup dan semestinya selaras dengan alam.
Senin, 2 November 2026
Karya: “Kopral Sudrun” oleh Teater Api Indonesia x Tangoing Performance
Pementasan kolaboratif ini menghadirkan refleksi sekaligus kritik terhadap persoalan sosial dan krisis lingkungan yang tidak hanya relevan di Indonesia, tetapi juga menjadi isu global yang dialami masyarakat dunia.
Perjumpaan Budaya dan Eksplorasi Artistik

Gagasan di balik kolaborasi ini sebelumnya telah dipaparkan dalam Artist Talk pada Jumat (30/10/2026) di Wisma Jerman, Surabaya, yang menghadirkan sutradara Teater Api Indonesia, Luhur Kayungga, serta sutradara Tangoing Performance, Peter Ohrt.
Peter Ohrt mengungkapkan bahwa kelompoknya menerapkan pendekatan teater yang fleksibel dan responsif terhadap ruang maupun kehadiran audiens. Menariknya, Peter sempat membagikan kesannya saat pertama kali tiba di Surabaya.
“Surabaya itu berisik,” ujarnya, sembari menyoroti kondisi polusi udara yang pekat. Pengalaman merasakan atmosfer kota besar yang keras ini justru memberi pemahaman bagi Peter mengapa Teater Api Indonesia memiliki karakter pertunjukan yang keras dan cenderung fatalistik dalam ekspresinya.

Sementara itu, Luhur Kayungga menegaskan pentingnya proses dialog tanpa memaksakan penyeragaman bentuk estetika. Perbedaan cara pandang dan estetika tubuh justru membuka kemungkinan-kemungkinan kreatif baru tanpa menghilangkan identitas masing-masing kelompok.
Bagi penikmat seni pertunjukan yang ingin menyaksikan pementasan ini, tiket dapat dipesan secara daring melalui tautan bit.ly/NontonPentasTAI atau datang langsung di lokasi (on the spot / OTS) paling lambat satu jam sebelum pintu dibuka (pukul 19.00 WIB). (NESSI)
